Home
MENU
UTAMA
Hal
- hal yang perlu dipertimbangkan
sebelum
terjun ke dunia bisnis
Apa
yang membedakan antara enterpreneur dan
karyawan?
Berapa
lama dibutuhkan untuk menjalankan bisnis ?
Saya
ingin memulai usaha sendiri, tetapi…..?
Resiko
dan manfaat memulai bisnis setelah pensiun
Sudah
siapkah anda untuk memulai usaha baru dilingkungan rumah sendiri ?
Baca
article yang lain ......
Modal
Dasar Memulai Usaha
Memulai
usaha tidak hanya tergantung pada modal uang
Relationship
adalah kunci utama kesuksesan bisnis Baru
Ide bisnis
Sepuluh pertimbangan bagi para pengusaha Warnet di Indonesia agar usaha tidak gulung tikar Baru
Potensi ekonomi lokal
Strategi Pemasaran
Regulasi
yang berkaitan dengan Bisnis
Paten
Hak
Cipta
Merek
Alat
bantu untuk mengetahui rangking website
Page
Rank Search
Generator
pengecek Domain
Future
Page Rank Tool
Keywords
Optimizer Tool
Keyword
Suggestions For Google
Keyword
Suggestions for Overture
Keywords
Density
Link
Popularity
Meta
Analyzer
Meta
Tag Generator
Page
Rank Look Up
Menjadi pelanggan gratis
|
Resiko
dan manfaat memulai bisnis setelah pensiun
Oleh
Erny Setyawati
Menurunnya
penghasilan serta kebutuhan financial yang masih cukup tinggi setelah
pensiun, membuat para pensiunan berpikir untuk memulai bisnis setelah
pensiun. Mungkinkah seorang pensiunan baru mulai business, sedang kondisi
fisik dan kesehatan sudah menurun, walaupun tidak dapat dipungkiri banyak
para pensiunan merasa masih energik dan potensial untuk berkarya.
Rata
– rata seorang pensiunan di Indonesia menghadapi tiga hal secara
bersamaan, menurut Adi Waluyo dan Sukatna Panca. M, kusulitan financial,
post power syndrome, dan menurunnya kesehatan secara dratis.
Pada masa sibuk dan aktif bekerja, tidak akan terpikirkan, persiapan
yang perlu dipersiapkan jika pensiun, baik dari segi mental maupun financial.
Menjadi trendsetter saat ini, perusahaan atau instansi pemerintah memberikan
pelatihan atau training entrepreneur karyawannya sebelum pensiun. Ini
merupakan terobosan yang bagus, tetapi akankah semudah itu mengubah
minset seseorang, dari mental karyawan menjadi mental entrepreneur.
Ada
beberapa strategi perlu dicermati untuk memulai bisnis setelah pensiun,
1.Memulai
bisnis , jauh sebelum pensiun.
Ini bukanlah patokkan harga mati, banyak juga para karyawan memulai
bisnis di masa muda. Mengapa bisnis harus dirintis jauh sebelum pensiun,
pertimbangannya mengubah mindset dari karyawan ke entrepreneur tidak
semudah membalikkan tangan. Membangun bisnis merupakan keniscayaan,
bisa sukses atau gagal. Butuh proses yang panjang untuk mencapai keberhasilan.
Idealnya para pensiunan tidak menggantungkan penghasilan sepenuhnya
pada bisnis yang sedang dibangun.
Apa yang dijalankan oleh Suhadi Sukama, bisa menjadi refensi bagi para
pensiunan. Suhadi telah mempersiapkan jauh hari sebelum pensiun. Ia
menekuni dunia agrobisnis. Selama ia bekerja di BUMN Indonesia, telah
mempelajari budi daya ayam ras, itik, serta uji coba bertanam sayur,
tanaman hias dan sebagainya. Kini dibawah bendera Eka Agro Rama, ia
menggeluti bisnis terintegrasi penanaman kopi, vanili, tanaman jati
dan ternak domba. Seharusnya bisnis sudah dirintis jauh – jauh
sebelumnya. Bagaimana dengan para pensiunan yang baru memulai bisnis
setelah pensiun, mungkinkah! Tidak ada sesuatu hal yang tidak mungkin
di dunia ini, namun ada hal – hal yang perlu dicermati bagi para
pensiunan yang baru pertama kali memulai bisnis setelah pensiun. Siap
untuk berproses, siapkan mental untuk sukses dan gagal. Menurut Robert
T. Kyosaki, penulis buku, Poor Dad and Rich Dad” , bahwa memulai
bisnis, seperti terjun dari pesawat tanpa parasit. Kita harus menciptakan
parasit pada saat terjun, jika gagal, pastilah jatuh. Ingin mulai lagi,
naik pesawat kemudian terjun lagi, sampai berhasil. Kapan keberhasilan
itu akan di dapat, inilah yang perlu dipersiapkan untuk para pensiunan,
waktu itu tidak terbatas. Mampukah para pensiunan menhadapi tantangan
ini.
2.
Manfaatkan potensi diri dan gunakan modal minimal.
Tidak dapat dipungkiri bahwa mindset seorang karyawan belum berubah
pada saat menapaki dunia pensiun. Sangat tergantung pada gaji bulanan,
konsumsitif, cenderung membelanjakan pada hal – hal yang kurang
diperlukan. Mulailah dengan modal yang minimal, berhentilah berangan
– angan memperoleh keuntungan besar di awal usaha. Galilah potensi
diri, hubungkan dengan hobby yang biasa dilakukan sehari – hari.
Kembangkan menjadi bisnis. Mungkin pengalaman Esrin bisa menjadi inspirasi
kita, ia pensiunan salah satu Departemen di lingkungan Pemerintah. Hobbynya
sungguh menggelitik, menyulam. Walaupun yang ditekuni selama bekerja
sebagai programmer, tetapi hobbinya jauh berbeda. “ Passion saya
ada di sulam menyulam. Hidup serasa bersemangat apabila melakukan kegiatan
tersebut”, urainya dengan penuh antusias. Nyaris tanpa modal,
cenderung minimal. Esrin hanya membeli kain kemudian menyulamnya menjadi
ornamen ornamen yang cantik, sehingga mempunyai nilai jual tinggi. Bahkan
para pelanggannya membeli dan membawa kain sendiri, tinggal esrin merancang
design dan menyulamnya. Esrin merekrut beberapa karyawan setelah dilatih
beberapa saat. Walaupun keuntungan dan penghasilan tidak begitu besar,
namun membuat Esrin sangat bahagia untuk mengisi hari – hari pensiunnya.
Bahkan Esrin sempat menelorkan beberapa buku berkaitan dengan sulam
menyulam, yang sempat direspon positip oleh masyarakat. Dari hobi berkembang
bisnis, modal minimal, namun secara psikologis sangat bermanfaat bagi
kesehatan jiwa, semangat hidup serta membuat hidup esrin merasa berarti,
karena dapat memberikan lapangan pekerjaan pada orang lain.
3.
Hindari Post Power Syndrome, bekerja sesuai kemampuan.
Gejala umum pasca pensiun adalah Post power syndrome dan menurunnya
kesehatan secare dratis. Perasaan tidak berguna dan merasa tidak ada
yang mengacuhkan lagi adalah gejala ikutan para pensiunan. Apabila perasaan
tersebut tidak diantisipasi dini, akan mempengaruhi kesehatan yang cenderung
telah menurun di usia pensiun. Memulai bisnis di usia pensiun, tidak
harus menjadi milyuner atau jutawan, tetapi minimal potensi diri termanfaatkan
dengan baik. Mempunyai skill dan pengalaman di bisnis yang digeluti
sangatlah diperlukan, karena sangat mempengaruhi bisnis yang akan dikembangkan.
Hindari memperkerjakan karyawan di awal memulai bisnis, untuk menghindari
pembengkakan modal. Kerjakan sesuai kemampuan dan kesehatan anda. Hindari
bekerja terlalu keras, karena power anda tidak sekuat muda dahulu. Pilihan
bisnis yang akan ditekuni di saat pensiun, sangat menentukan jalan hidup
anda. Pemilihan bisnis yang keliru, membuat stress Anda bertambah, modal
habis tak berbekas, akhirnya mempengaruhi kesehatan Anda. Pilihan bisnis
yang sesuai dengan pengalaman dan skill Anda, sehingga anda merasa bermanfaat
bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat. Perasaan Post power syndrome
pun secara bertahap akan hilang.
4.
Manfaatkan jaringan Anda.
Pemasaran atau promosi produk adalah hal yang sangat penting dalam berbisnis.
Para pebisnis senior rela mengeluarkan budget jutaan untuk memasarkan
produk baru. Tujuan pemasaran, disamping membangun brand image juga
pengenalan produk, sehingga orang mempunyai keinginan untuk membelinya.
Membangun brand image dilakukan secara terus menerus disamping senantiasa
harus menjaga kualitas produk. Bagi para pensiunan yang baru memulai
bisnis, memang perlu untuk pemasaran produk ini, tetapi seyogyanya menggunakan
modal se efisien mungkin. Pensiunan pejabat, sangat dimungkinkan untuk
memanfaatkan jaringan pada masa aktif bekerja dahulu. Upayakan untuk
mengkoleksi kembali nama, alamat dan nomor handphone rekan rekan lama
atau relasi anda dahulu, rangkumlah menjadi satu database. Kecanggihan
teknologi telekomunikasi dapat dimanfaatkan untuk mengontak kembali
dan mengenalkan produk yang Anda jual. Sebarkan brosur seluas mungkin,
untuk menjaring customer baru. Layani customer Anda dengan sepenuh hati
dan tanggapi keluhan mereka. Dengan demikian customer merasa dihargai.
Langkah – langkah tersebut diatas akan memberikan dampak pada
kehidupan Anda secara keseluruhan. Anda merasa dibutuhkan, merasa tidak
kehilangan pekerjaan dan merasa bermanfaat bagi orang banyak.
5.
Merekrut karyawan apabila benar – benar membutuhkan.
Merekrut karyawan baru perlu dipertimbangkan, apabila customer Anda
mulai berkembang dan permintaan produk semakin banyak. Kepentingan ini
dikaitkan dengan kesehatan dan tenaga para pensiunan yang mulai menurun,
dan tidak mampunya memenuhi permintaan customer yang meningkat. Perlu
dicermati merekrut karyawan mempunyai resiko, harus memberikan upah
dan kesejahteraan lainnya. Pertimbangkan untuk sistim pengupahannya.
Seyogyanya tidak diberikan upah bulanan, tetapi sesuai target produk
yang dihasilkan.
Erny
Setyawati adalah penulis freelance pada beberapa media on line di luar
negeri, berpengalaman dalam penulisan Internet Home Business selama
4 tahun. Karena kegemaran dan hobby menulisnya, ia menciptakan Electronic
Magazine, Bali Global Market Ezine http://www.baliglobalmarket.com
yang direspon positip oleh masyarakat dunia. Pelanggannya sudah mencapai
hampir 19000 lebih dan cenderung berkembang pesat dari seluruh penjuru
dunia. Erny begitu responsive terhadap pelanggannya, dan siap untuk
berbagi pengalaman
melalui kontak erny@baliglobalmarket.com
|